• svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed

Facebook Posts

17 hours ago

Minelog Services Indonesia

Trasport alat berat di proyek SMM ... See MoreSee Less

View on Facebook

Mengenal Potensi dan Risiko Industri Batubara di Indonesia

Cadangan batubara nasional Indonesia diprediksi masih bertahan hingga 76 tahun ke depan. Tahun 2018, data rekonsiliasi cadangan batubara menunjukkan angka sekitar 166 miliar ton untuk sumberdaya, dan 37 miliar ton untuk cadangan.

Ini menjadikan sektor industri di tambang batubara masih akan menjadi "primadona" untuk beberapa tahun ke depan. Di samping, batubara akan memberikan kontribusi besar pada pendapatan negara sebagai royalti.

Namun, dalam perkembangan industri minerba di Indonesia, bisnis pertambangan --khususnya untuk sektor batubara-- menunjukkan adanya karakteristik yang berbeda.

Dalam berbagai kajian dan analisa, karakteristik bisnis batubara di Indonesia, selain memiliki potensi dan masa depan yang cerah, juga memiliki risiko yang harus diantisipasi.

Dari berbagai studi literal, dalam industri batubara secara spesifik diperlukan suatu mekanisme penanggulangan risiko operasional yang baik dan sistematis. Selain agar setiap perusahaan bisa melindungi dan mencapai kepentingannya, juga untuk membangun sebuah sistem pengawasan dan pengelolaan, sehingga akan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mencapai visi, misi dan tujuan strategisnya.

Risk Managament Assesment

Secara umum, ada beberapa analisa risiko pertambangan yang sesuai dengan karakteristik industri pertambangan di Indonesia.

Yang paling awal adalah political risk. Risiko tambang di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi politik yang diatur dan ditentukan dalam perundangan dan kebijakan, seperti UUD 1945, visi pembangunan nasional, nawacita, kedaulatan energi, pergantian pemerintahan, hingga pergantian kementerian dan kebijakan-kebijakan lainnya.
Selain itu, sebagai negara yang ekonominya berbasis komoditas, Indonesia sangat terpengaruh oleh perlambatan ekonomi di Cina.

Karena itu, risiko kedua yang harus diantisipasi adalah changing regulation atau berubahnya kebijakan.

Secara umum, pertambangan di Indonesia telah diatur pada Undang-Undang No. 4 tahun 2009 yang mengatur tentang peningkatan nilai tambah batubara dan mineral. Pelaksanaannya diatur oleh Peraturan Menteri No. 7 tahun 2012 dan mulai efektif setelah diberlakukan Permen ini.

Implikasi Permen ini adalah: (i) kewajiban perusahan tambang untuk melakukan pengolahan bahan galian tambang di dalam negeri. (ii) pelarangan ekspor bijih mentah atau hasil tambang yang belum dilakukan pengolahan. Dengan adanya Permen ini, maka perusahaan tambang berkewajiban untuk melakukan pembangunan smelter atau pabrik pengolahan mineral.

Berapa regulasi yang berimplikasi pada bisnis tambang, adalah Domestic Market Obligation (DMO) dan perubahan Royalty (fee).
Pada awal tahun 2017, juga dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) 1/2017 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara serta peraturan turunannya termasuk untuk melakukan divestasi saham hingga 51% secara bertahap.

Risiko ketiga adalah bisnis pertambangan batubara sangat dipengaruhi oleh harga batubara. Mengingat batubara adalah sebuah komoditas, nilainya sangat dipengaruhi oleh harga global yang berfluktuasi karena dinamika volume penawaran dan permintaan.

Financial risk menjadi risiko keempat yang harus diantisipasi. Dari sisi keuangan atau financial risk, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Yaitu: risiko mata uang, tingkat suku bunga, risiko default counterparty, risiko likuiditas dan risiko yang terkait dengan pasar modal.
Risiko kelima adalah Operational Risk. Yaitu: pertambangan merupakan proyek pengoperasian dengan keahlian yang tinggi. Karenanya, pengelolaannya membutuhkan kemampuan untuk mengantisipasi risiko yang akan terjadi.

Beberapa risiko terkait operasional yang paling bisa diidentifikasi adalah: Mining Engineering, Health, Safety, Environment, Proses dan probem produksi, Kualitas Produk, Kontraktor, Rencana Operasi, Ketersediaan lahan, Manajemen Proyek, Kegagalan untuk menemukan sumber daya baru/mempertahankan dan mengembangkan operasi baru (ketidakpastian memperkirakan sumber daya baru), pola cuaca yang tidak normal dan tidak mengikuti musim, pasokan bahan bakar, pergerakan harga batubara, kemampuan untuk mendapatkan alat berat, hubungan masyarakat, terkena peningkatan litigasi, biaya kepatuhan, biaya rehabilitasi lingkungan yang tak terduga, bencana alam, klaim pihak ketiga dapat melebihi polis asuransi yang ada.

Risiko berikutnya adalah Capital Project. Bahwa, proyek pertambangan merupakan proyek dengan investasi modal yang besar. Ada banyak prosedur dan tahapan yang harus dilakukan baik sebelum produksi maupun saat produksi.

Karenanya, risiko awal sudah pada pendanaan, sudah terjadi pada saat sebelum melakukan produksi (pre-produksi).

Jadi, selain membutuhkan modal yang besar, proyek tambang pada umumnya juga proyek dengan jangka panjang. Membutuhkan waktu yang lama untuk pengembalian modal. Bilamana tidak dilakukan management proyek yang baik, maka dapat terjadi kebangkrutan.

Dari berbagai analisa terkait dengan risiko industri pertambangan batubara, maka sebuah mining risk assesment sangat diperlukan.

Kelancaran operasional perusahaan di tengah beragam risiko yang mungkin timbul akibat faktor internal maupun eksternal, akan memerlukan mekanisme penanggulangan risiko operasional yang baik dan sistematis. Terutama, melalui penerapan manajemen risiko.(naskah dihimpun dari berbagai sumber)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

5 days ago

Minelog Services Indonesia

Pembukaan Akses menuju tempat pemboran proyek SMM ... See MoreSee Less

View on Facebook

Kejayaan Batubara Indonesia dan Naiknya Cadangan Nasional

Kabar baik di tahun 2018 untuk industri batubara di Indonesia adalah: adanya peningkatan total sumber daya dan cadangan batubara nasional, yang semula 125 miliar ton sumberdaya dan 25 miliar ton cadangan di tahun 2017, menjadi sekitar 166 miliar ton sumberdaya dan 37 miliar ton cadangan di 2018.

Angka ini, merupakan hasil rekonsiliasi data minerba yang melibatkan 19 provinsi di Indonesia, yang memiliki jumlah IUP signifikan. Rekonsiliasi data neraca minerba ini, merupakan hasil dari kerja bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi dengan Direktorat Jenderal Minerba dan Tim Koordinasi dan Supervisi (Korsup) sektor minerba KPK.

Kepala Bidang Batubara PSDMBP, Rita Susilawati melalui keterangan resminya pada pertengahan tahun 2018 menyatakan bahwa rekonsiliasi minerba tersebut, salah satunya menghasilkan peningkatan total sumber daya dan cadangan batubara nasional.

Subsektor mineral dan batubara (minerba) juga masih menjadi salah satu penyumbang penerimaan Negara yang besar. Hingga bulan Juni 2018, sektor itu berhasil menghimpun pendapatan sebesar Rp 20,1 triliun untuk kas negara yang berasal dari royalti, penjualan hasil tambang, dan iuran tetap minerba.

Potensi penerimaan negara dari subsektor minerba untuk tahun 2019 atau tahun-tahun berikutnya, diprediksi akan meningkat. Hal ini terlihat dari rekonsiliasi data minerba tahun 2018, yang dicatat oleh Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Kementerian ESDM.

Yaitu, adanya peningkatan total sumber daya dan cadangan batu bara nasional. Dimana, pada tahun 2017 tercatat sumber daya sebesar 125 miliar ton dan cadangannya 25 miliar ton. Tahun 2018, meningkat menjadi 166 miliar ton sumber daya dan 37 miliar ton cadangan.

Kepala Bidang Batubara PSDMBP, Rita Susilawati memberikan gambaran, dengan asumsi angka produksi batubara yang ditetapkan pemerintah sekitar 485 juta ton di tahun 2018, maka jumlah cadangan sebesar 37 miliar yang ada di Indonesia, akan membuat produksi batubara bertahan hingga sekitar 76 tahun ke depan.

Kegiatan eksplorasi batubara sendiri, secara rinci dan mendalam dapat mengubah status sumber daya menjadi cadangan. Sehingga umur pemanfaatan batubara Indonesia juga bisa terus meningkat.

Karena itu, upaya untuk meningkatkan cadangan juga terus digencarkan. Salah satunya dengan menjaring lebih banyak data sumber daya dan cadangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B). Upaya ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat terhadap jumlah kekayaan sumber daya mineral dan batu bara yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan rekonsiliasi data hingga tahun 2018, telah berhasil mengumpulkan data dari 1.108 perusahaan atau sekitar 54% total jumlah IUP/PKP2B batubara di Indonesia. Angka ini sangat signifikan, karena kompleksitas data IUP di daerah.

Keberhasilan terbesar dicatatkan oleh Dinas ESDM Provinsi Bengkulu yang telah berhasil mengumpulkan data dari seluruh pemegang IUP batubara yang ada di provinsi tersebut. Sementara, Provinsi Kaltim masih menjadi tantangan terbesar dalam pengumpulan data dari IUP dimana baru sekitar 50% data yang terkumpul.

Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia. Tahun 2005, ekspor batubara Indonesia bahkan melampaui produksi Australia. Indonesia menjadi eksportir terdepan batubara thermal.

Batubara thermal yang diekspor terdiri dari jenis kualitas menengah (antara 5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram), yang sebagian besar permintaannya berasal dari Cina dan India.

Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia menempati peringkat ke-9 dengan sekitar 2,2 persen dari total cadangan batubara global berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan batubara total Indonesia, terdiri dari batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6100 cal/gram.

Ada banyak kantung cadangan batubara yang kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan cadangan batubara terbesar di Indonesia adalah:

1. Sumatra Selatan

2. Kalimantan Selatan

3. Kalimantan Timur

Sektor pertambangan batubara di Indonesia mengalami peningkatan produksi, ketika tahun 1990-an dibuka investasi untuk asing. Ekspor mengalami peningkatan. Namun penjualan domestik tidak signifikan, karena konsumsi batubara dalam negeri relatif sedikit di Indonesia.

Booming komoditas batubara terjadi pada era 2000-an. Sektor ini menghasilkan keuntungan yang signifikan untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ekspor batubara. Kenaikan harga komoditas ini, sebagian besar dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.

Kendati begitu, situasi yang menguntungkan ini berubah pada saat terjadi krisis keuangan global pada tahun 2008, ketika harga-harga komoditas menurun begitu cepat. Indonesia terkena pengaruh faktor-faktor eksternal ini karena ekspor komoditas (terutama untuk batubara dan minyak sawit) berkontribusi untuk sekitar 50% dari total ekspor Indonesia, sehingga membatasi pertumbuhan PDB tahun 2009 sampai 4,6%.

Pada semester 2 tahun 2009 sampai awal tahun 2011, harga batubara global mengalami rebound tajam. Namun demikian, penurunan aktivitas ekonomi global telah menurunkan permintaan batubara, sehingga menyebabkan penurunan tajam harga batubara dari awal tahun 2011 sampai tengah 2016.

Pada paruh kedua 2016, harga batubara melonjak ke level seperti yang terjadi pada awal 2014. Sehingga, hal ini memberikan angin segar ke industri pertambangan. Kenaikan harga ini dipicu oleh pulihnya harga minyak mentah, meningkatnya permintaan batubara domestik di Indonesia seiring dengan kembalinya pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Namun, yang lebih penting lagi adalah kebijakan penambangan batubara China. China, produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia, memutuskan untuk memangkas hari produksi batubara domestiknya. Alasan utama mengapa China ingin mendorong harga batubara ke level yang lebih tinggi pada paruh kedua tahun 2016, adalah tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing loans, atau NPLs) di sektor perbankan China.

Rasio NPLnya meningkat menjadi 2,3 persen pada tahun 2015. Alasan utama yang menjelaskan kenaikan rasio NPL ini adalah perusahaan pertambangan batubara China yang mengalami kesulitan untuk membayar hutangnya kepada bank.

Namun, mengingat aktivitas ekonomi global masih agak suram, arah harga batubara dalam jangka pendek hingga menengah sangat bergantung pada kebijakan batubara China.

Walaupun kesadaran global telah dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, perkembangan sumber energi terbarukan tidak menunjukkan indikasi bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil (terutama batubara) akan menurun secara signifikan dalam waktu dekat.

Karena itu, batubara masih akan menjadi sumber energi vital. Oleh karenanya, teknologi batubara bersih dalam pertambangan batubara akan sangat diperlukan di masa mendatang. Dan, Indonesia diharapkan akan terlibat secara aktif di dalam proses tersebut, sebagai salah satu pelaku utama di sektor pertambangan batubara.

Teknologi batubara bersih ini difokuskan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batubara. Kegiatan-kegiatan hulu yang terkait dengan pertambangan batubara, seperti pengembangan waduk-waduk coalbed methane (CBM) yang potensinya banyak dimiliki oleh Indonesia, telah mulai mendapatkan perhatian berbagai pihak. Inilah harapan besar akan bangkitnya kembali kejayaan batubara di Indonesia.

(dihimpun dari berbagai sumber)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

1 week ago

Minelog Services Indonesia

Load alat dan persiapan ke lokasi pemboran dan rig di Proyek SMM ... See MoreSee Less

View on Facebook

Industri Batubara, Sejarah dan Prospek Bisnisnya yang Cerah

Batubara merupakan energi primer. Sangat dominan, terutama untuk pembangkit listrik. Sejak 1867, ketika Ir WH De Greve, seorang geolog Belanda, menemukan cadangan terbesar batubara di desa terpencil, berjarak sekitar 90 kilomter dari Kota Padang: Sawahlunto.

Di antara tahun 1920 – 1930, pemerintah daerah Sawahlunto mencatat adanya ribuan orang memenuhi wilayah itu. Bekerja dan melakukan berbagai aktivitas pertambangan.

Sejarah pertama industri pertambangan di Indonesia, dimulai. Hingga seratus tahun kemudian, batubara menjadi industri yang memberikan kontribusi sebesar Rp 20,1 Triliun kepada Pendapatan Negara dalam bentuk royalti.

Angka ini akan bertambah, seiring dengan data rekonsiliasi minerba Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Bahwa, total sumber daya dan cadangan batubara nasional dari yang semula 125 miliar ton sumberdaya dan 25 miliar ton cadangan di tahun 2017, menjadi sekitar 166 miliar ton sumberdaya dan 37 miliar ton cadangan.

Meningkatnya pembangunan dan pola hidup masyarakat, akan membuat peningkatan pada sektor konsumsi energi dan penyediaan listrik. Inilah yang menjadikan prospek batubara masih sangat tinggi.

Karena itu, kebijakan bauran energi nasional menunjukkan angka yang optimis bagi industri ini. Dimana, prosentasi penggunaan batubara di tahun 2025 akan meningkat 6% dari 24% (2011) menjadi 30%.

Trend penggunaan batubara juga terus meningkat, seperti pada rencana produksi batubara sampai dengan tahun 2045 yang telah dibuat oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sektor Industri yang Cerah

Pertambangan adalah sebuah pekerjaan atau bisnis pencarian, penyelidikan, penambangan, pengolahan, penjualan mineral-mineral dan batuan yang memiliki arti ekonomis.

Di Indonesia, penggolongan tambang didasarkan atas bahan galian tambang. Secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu: Golongan A, adalah jenis tambang yang bernilai strategis bagi keamanan negara. Yang masuk golongan ini, diantaranya bahan galian sumber energi Batubara, minyak bumi, uranium.

Golongan B, yaitu tambang yang bernilai vital dan menguasai hajat hidup orang banyak. Yang masuk di sini, diantaranya adalah vesi, nikel, emas, tembaga. Terakhir adalah Golongan C, yang banyak diperuntukkan untuk bahan galian industry seperti limestone, andesite, kuarsa, dll.

Cadangan bahan tambang dunia sangat besar. Menurut data statistik dari The World Energy Council (2007), cadangan batubara dunia sekitar 847 milyar ton.

Bila saat ini produksi batubara global ada di level 6 milyar ton per tahun, maka suplai batubara bisa bertahan hingga 100 tahun. Sementara cadangan emas dunia mencapai 41.500 juta ton.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga menyebutkan bahwa jumlah cadangannya sebesar 105.187 milyar ton, dengan kualitas batubara yang bervariasi. Mulai dari yang kalori rendah sampai kalori tinggi.

Batubara kalori rendah berada di Sumatera Selatan, termasuk Jambi dan beberapa daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Sementara untuk kalori tinggi berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Total produksi batubara nasional di tahun 2015 mencapai 393 Juta ton dan ini menempatkan Indonesia termasuk negara produsen batubara 10 besar di dunia.

Dengan banyaknya cadangan bahan tambang ini, banyak perusahaan yang berbisnis di sektor pertambangan.

Pada dasarnya, karakteristik industri tambang Indonesia secara umum dapat dilihat dari tiga hal, yaitu: kesempatan, tantangan dan volatility (fluktuasi). Ketiganya sangat mempengaruhi kondisi pertambangan Indonesia.

Namun, secara umum karakteristik industri tambang adalah industri dengan padat modal dengan durasi proyek yang lama, sebaran bahan galian terpencar, sehingga hal ini memiliki risiko operasi yang besar.

Selain itu juga sensitif terhadap siklus bisnis, pendapatannya didorong oleh fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar.

Biayanya terkait dengan eksplorasi, perizinan, konstruksi tambang, rehabilitasi, ditambah dengan biaya operasional: biaya perawatan, biaya bahan bakar, biaya energi, biaya tenaga kerja,

Masalah lingkungan: polusi suara, air asam tambang, perubahan keseimbangan air lokal, longsoran limbah, terganggunya kehidupan hewan, menjadikan industri ini harus mengikuti peraturan lingkungan yang ketat.

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan juga mendaftarkan pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) guna mendapatkan pendanaan, menuntut tata kelola tambang yang bersih dan profesional.

Karena itu, jika dilihat dari performa saham, sektor industri pertambangan pernah mengalami masa terburuk di tahun 2015, yang diduga terkait pemberlakuan UU Minerba per Januari 2015. Dimana, salah satu isinya adalah melarang ekspor mineral mentah.

Dampak atas larangan ini berimbas pada menumpuknya stok dan kekurangan kas, sehingga operasional perusahaan berhenti. Hal ini menjadi penyebab beberapa perusahaan merumahkan karyawannya. Industri pertambangan memang sangat terpengaruh pada pasar global.

Pada kwartal 2016, harga batubara kembali naik mencapai 100 US $/ton dan diproyeksikan pada tahun 2017, harga barubara akan stabil di level 80 US $/ton. Prospek industri batubara kembali bangkit, dan hingga saat ini dinilai lebih bagus dari komoditi yang lain.

Apalagi, dengan peningkatan konsumsi dalam negeri, dan rencana pemerintah membangun pembangkit listrik berkapasitas 35 ribu mega watt dengan menggunakan batubara.

Bisnis pertambangan batubara di tahun 2019, merupakan bisnis yang memiliki prospek yang cerah. Ini seiring dengan peningkatan produksi dan penambahan investasi modal yang menjadi penggerak bisnis ekonomi nasional.

Namun yang harus diperhatikan adalah: perusahaan tambang wajib melakukan managemen risiko untuk menghindarkan dari dampak-dampak negatif dari kondisi ekternal dan perubahan-perubahan yang terjadi.

Perusahaan Perbankan sebagai bagian dari bisnis pertambangan yang memberikan pendanaan, juga perlu selektif dalam menyalurkan dananya, mengingat di tahun-tahun sebelumnya, kinerja perbankan dalam bentuk NPL masih kurang baik.(dihimpun dari berbagai sumber)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

2 weeks ago

Minelog Services Indonesia

Load alat ke lokasi pemboran dan rig di Proyek SMM ... See MoreSee Less

View on Facebook

4 Prinsip MSI

Selama lebih dari 10 tahun, MSI telah membangun relasi dan proyek yang bertahan lama. Sebagai ahli pertambangan yang terdiversifikasi. MSI diakui sebagai salah satu perusahaan eksplorasi pertambangan terkemuka di Indonesia.

Melayani daftar klien jangka panjang, kami adalah organisasi profesional dengan pengalaman dan keahlian eksplorasi pertambangan di berbagai industri.

1. Trust
Kami bersikap rendah hati dalam semua transaksi dengan mitra, klien, dan anggota tim kami. Kebijaksanaan dan pemahaman sejati adalah milik orang yang rendah hati.

2. Honest
Kami menjamin untuk jujur ​​dan terus terang dalam semua transaksi kami dengan satu sama lain dan klien kami.

3. Growing Together
Sukses adalah ketika kita dapat mencapai hasil dalam hal-hal yang kita sukai dan rasakan sehingga tercapailah perbedaan dari diri kita yang sebelumnya.

4. Kualitas Kerja
Kami memastikan bahwa semua proyek dilakukan dengan profesionalisme maksimal menggunakan bahan berkualitas dan menawarkan dukungan dan aksesibilitas kepada klien.

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

3 weeks ago

Minelog Services Indonesia

Kegiatan Pemboran dan Rig MSI ... See MoreSee Less

View on Facebook

3 weeks ago

Minelog Services Indonesia

Kegiatan Pemboran dan Rig di Proyek SMM ... See MoreSee Less

View on Facebook