• svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed

Facebook Posts

Membangun Harmonisasi Kewenangan Daerah Bidang Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara (1)

Harmonisasi berasal dari kata harmoni (bahasa Yunani harmonia). Artinya, terikat secara serasi dan sesuai. Ditinjau dari aspek filsafat, harmoni diartikan kerja sama antara berbagai faktor yang sedemikian rupa sehingga faktor-faktor tersebut menghasilkan kesatuan yang luhur.

Harmonisasi peraturan perundang-undangan merupakan keserasian antara peraturan perundang-undangan antara yang satu dengan yang lainnya, baik yang berbentuk vertikal (hierarki perundang-undangan) ataupun horizontal (perundang-undangan yang sederajat).

Keserasian tersebut, adalah tidak adanya pertentangan antara peraturan yang satu dengan yang lainnya. Peraturan yang satu dengan yang lainnya saling memperkuat ataupun mempertegas dan memperjelas.

Buku Tussen en verscheidenheid: Opstellen over harmonisatie in staatsen bertuursrecht sebagaimana dikutip LM Gandhi mengemukakan, harmonisasi dalam hukum adalah mencakup penyesuaian, peraturan perundangundangan, keputusan pemerintah, keputusan peningkatan kesatuan hukum, kepastian hukum keadilan (justice, gerechtigheid) dan kesebandingan (equity, billijkheid), kegunaan dan kejelasan hukum, tanpa mengaburkan dan mengorbankan pluralisme hukum kalau memang dibutuhkan (L.M Gandhi, 1995).

Oleh karena itu, yang dimaksud harmonisasi perundang-undangan adalah upaya atau proses untuk merealisasi keselarasan dan keserasian asas dan sistem hukum sehingga menghasilkan peraturan yang harmonis.

Dengan kata lain pengharmonisan merupakan upaya untuk menyelaraskan, menyesuaikan, menetapkan dan membulatkan konsepsi suatu peraturan perundang-undangan lain baik yang lebih tinggi (superior), sederajat, maupun yang lebih rendah (inferior) dan lain-lain selain peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian, peraturan akan tersusun secara sistematis, tidak saling bertentangan atau tumpang tindih (overlaping).

Harmonisasi idealnya dilakukan pada saat perancangan peraturan perundang-undangan. Pengharmonisasian rancangan undang-undang mencakup 2 aspek yaitu:

a. Pengharmonisasian materi muatan rancangan undang-undang dengan Pancasila, UUD 1945( harmonisasi vertikal), Undang-Undang (harmonisasi horizontal) dan asas-asas peraturan perundang-undang;

b. Pengharmonisasian rancangan undang-undang dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan yang meliputi kerangka peraturan perundang-undangan, hal-hal khusus, ragam bahasa dan bentuk rancangan peraturan perundang-undang.

Kesesuaian norma hukum yang lebih rendah dengan yang lebih tinggi juga nampak dalam sejumlah asas yang dikenal dalam ilmu hukum. Asas-asas tersebut biasanya dipergunakan dalam menyelesaikan konflik norma hukum.

Asas-asas hukum umum atau prinsip hukum (general principles of law) yang harus diperhatikan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu:

a. Asas lex superior derogat legi inferiori, yaitu peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya didahulukan berlakunya daripada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah dan sebaliknya peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya.

b. Asas lex specialis derogat legi generali, yaitu peraturan perundang-undangan khusus didahulukan berlakunya daripada peraturan perundang-undangan yang umum. Prinsip ini berlaku terhadap peraturan perundang-undangan yang setingkat.

c. Asas lex posterior derogat legi priori, yaitu peraturan perundang-undangan yang baru didahulukan berlakunya daripada yang terdahulu.

d. Asas lex neminem cogit ad impossobilia, yaitu peraturan perundang-undangan tidak memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan atau sering disebut dengan asas kepatutan (bilijkheid).

e. Asas lex perfecta, yaitu peraturan perundang-undangan tidak saja melarang suatu tindakan tetapi juga menyatakan tindakan terlarang itu batal.

f. Asas non retroactive, yaitu peraturan perundang-undangan tidak dimaksudkan untuk berlaku surut (statues are not intended to have retroactive effect) karena akan menimbulkan ketidakpastian hukum.

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Mengenal Pemodelan Prakiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi dengan Skenario Optimasi Pengolahan Batubara di Indonesia (5)

Dalam sepuluh tahun mendatang, kebutuhan batubara domesik per tahun diperkirakan bisa mencapai 167 juta ton dari total kebutuhan batubara saat ini, yang jumlahnya sekitar 90 juta ton per tahun. Tingkat rata-rata pertumbuhan 1.04% per tahun.

Jumlah ini masih bisa bertambah seiring dengan rencana peningkatan pengolahan batubara dalam negeri melalui pembangunan industri gasifikasi nasional.

Pembangkit masih akan menjadi pengguna batubara terbesar di Indonesia. Adanya tambahan pembangunan pembangkit berbahan bakar batubara, akan menyerap sekitar 88 persen dari kebutuhan batubara total.

Penggunaan batubara di sektor industri sendiri diperkirakan sedikit mengalami penurunan pada 5 (lima) tahun pertama waktu proyeksi. Ini disebabkan karena adanya kecenderungan sektor industri yang semakin efisien dalam penggunaan energi sebagai langkah antisipatif kenaikan harga energi yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Tren ini kemudian meningkat kembali seiring dengan harga energi yang diasumsikan tetap. Sehingga mengakibatkan berkurangnya upaya-upaya konservasi yang dilakukan sektor industri dalam rangka penurunan biaya marginal energi.

Di dalam skenario optimasi, diasumsikan adanya pembangunan industri gasifikasi batubara yang digunakan untuk menyediakan bahan baku industri pupuk pada tahun 2022.

Adanya pembangunan industri gasifikasi berkapasitas 180 MMSCFD tersebut hanya meningkatkan kebutuhan batubara sebesar 1.6 juta ton.

Hilirisasi pembangunan industri kimia dasar berbasis batubara, perlu ditingkatkan mengingat potensi permintaan terhadap produk-produk turunan petrokimia semakin meningkat di masa mendatang. Ini potensial untuk meningkatkan penggunaan dan nilai tambah batubara di dalam negeri.

Kecenderungan produksi gas nasional dalam beberapa tahun mendatang diperkirakan semakin menurun dan terbuka kemungkinan bagi Indonesia untuk melakukan impor gas setelah tahun 2022, yang berakibat pada semakin rendahnya indikator ketahanan energi nasional.

Pembatasan produksi batubara menjadi strategi yang benar-benar harus dipertimbangkan, untuk mewujudkan konservasi cadangan batubara nasional.

Pengendalian akan berdampak secara langsung terhadap penurunan ekspor batubara yang selama ini menjadi salah satu sumber andalan penerimaan negara dan meningkatkan penyerapan batubara domestik hingga 43% terhadap produksi batubara nasional di tahun 2030.

Pembatasan produksi batubara, sebagai upaya untuk mendukung ketahanan energi nasional juga belum secara jelas dikuantifikasikan berapa lama jangka waktu ketahanan energi yang dimaksud.

Dilihat dari sisi ketahanan energi, dengan asumsi tingkat cadangan batubara saat ini dan dengan rata-rata tingkat produksi sebesar 500 juta ton per tahun, cadangan batubara saat ini sudah dapat mendukung ketahanan energi nasional hingga sekitar 50 tahun mendatang.

Pembatasan batubara pada dasarnya sudah dilakukan oleh Pemerintah. Salah satunya dengan melakukan evaluasi kontrak produksi yang diajukan oleh perusahaan batubara, khususnya terhadap produksi yang ditujukan untuk memenuhi pasar spot.

Target pembatasan produksi batubara pada angka 400 juta ton akan menjadi sebuah kesulitan tersendiri dalam implementasinya menyangkut jumlah dan siapa yang akan dikurangi tingkat produksinya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

1. Adanya komitmen kontrak batubara yang harus dipenuhi oleh beberapa perusahaan, baik untuk pasar luar negeri maupun dalam negeri.

2. Ijin pengusahaan batubara yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Pemerintah Pusat namun juga di bawah kendali Pemerintah Daerah. Akan sangat sulit bagi pemerintah daerah untuk mau mengurangi tingkat produksi batubara terutama bagi daerah yang sangat menggantungkan sumber pendapatannya dari sektor
batubara.(*)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Mengenal Pemodelan Prakiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi dengan Skenario Optimasi Pengolahan Batubara di Indonesia (4)

Hingga akhir tahun 2016 realisasi produksi batubara Indonesia yang berasal dari pemegang PKP2B, IUP BUMN, dan IUP yang dikeluarkan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi mencapai 434 juta ton, melebihi jumlah produksi batubara yang ditargetkan sebear 419 juta ton.

Kinerja ekspor batubara Indonesia di dalam PDB nasional selama periode 2016 mencatatkan perbaikan kinerja baik volume dan nilai.

Ekspor batubara Indonesia pada tahun 2016 mencapai hampir 370 juta ton yang terdiri dari coking coal 83.08 juta ton, thermal coal 228 juta ton, dan lignite sebesar 58.25 juta ton. Secara total ekspor batubara Indonesia meningkat sebesar 0.52% secara year on year.

Peningkatan tertinggi terjadi pada batubara jenis lignite yang melonjak hingga 50.97% dibanding tahun sebelumnya (sxcoal.com, 2017).

Peningkatan ekspor lignite Indonesia utamanya dipengaruhi oleh peningkatan permintaan lignite dari China akibat adanya kebijakan pemerintah China untuk mengurangi jumlah hari produksi tambang batubara dari 330 hari menjadi 276 hari setahun dan meningkatnya harga batubara dalam negeri China.

Jumlah batubara Indonesia yang diimport ke China meningkat 46.7% year on year, mencapai 107 juta ton. Angka ini mengalahkan India sebagai negara tujuan utama ekspor batubara Indonesia.

Korea Selatan dan Jepang juga menunjukan peningkatan impor batubara yang berasal dari Indonesia. Masing-masing sebesar 7.2% dan 1.8% pada tahun 2016.

Peningkatan penggunaan batubara juga terjadi di pasar dalam negeri. Hal ini dipicu karena adanya pertumbuhan kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik seiring dengan realisasi beberapa proyek pembangunan pembangkit listrik batubara termasuk pembangkit listrik captive.

Penjualan batubara yang tercatat untuk kepentingan dalam negeri (DMO) mencapai 90.5 juta ton batubara, secara keseluruhan tumbuh sebesar 5% secara year on year.
Selain karena konsumsi batubara untuk PLTU, peningkatan penggunaan batubara juga disumbang oleh meningkatnya produksi industri semen.

Diperkirakan porsi penggunaan batubara untuk industri semen mencapai 11.63% dari total kebutuhan batubara 2016, sementara PLTU menyumbang sekitar 83%.

Di sisi penyediaan, tanpa adanya upaya pengendalian produksi batubara dan tetap menjadikan ekspor sebagai pasar batubara yang dominan, produksi batubara nasional diperkirakan akan tumbuh lebih dari 700 juta ton per tahun pada tahun 2025 dan sekitar 900 juta ton pada tahun 2030 atau meningkat rata-rata 1 persen per tahun.

India diperkirakan menjadi tujuan terbesar ekspor Indonesia menggantikan China mengingat adanya kebijakan Pemerintah China untuk menurunkan konsumsi batubara secara bertahap dan mengembangkan lebih banyak tenaga air, PLTG, PLTS, dan PLTB.

Sementara India menunjukan pertumbuhan permintaan batubara dalam negeri yang lebih tinggi dari kemampuan produksinya mengakibatkan terjadinya gap yang harus dipenuhi dari impor. Pada tahun 2017 sendiri India diperkirakan mengalami kekurangan batubara sekitar 266 juta ton yang terdiri dari thermal coal 230 juta ton dan sisanya berupa cooking coal.

Taiwan, Malaysia, Filipina, dan Pakistan diperkirakan akan menjadi pasar ekspor potensial bagi batubara Indonesia dikarenakan adanya rencana pembangunan pembangkit berbahan bakar batubara di masa mendatang.

Malaysia pada tahun 2020 diperkirakan akan dibangun sekitar 12 ribu MW PLTU Batubara yang berakibat pada peningkatan kebutuhan batubara menjadi sekitar 40 juta ton per tahun. Demikian juga Filipina dan Pakistan yang memiliki rencana untuk membangun pembangkit listrik batubara masing masing 13 ribu MW sampai 2030 dan 12 ribu MW dalam 15 tahun mendatang.

Peluang pasar batubara dalam negeri masih cenderung terus naik hingga sepuluh tahun kedepan bersamaan dengan massifnya pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara ditambah dengan rencana pembangunan industri.

(bersambung)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Mengenal Pemodelan Prakiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi dengan Skenario Optimasi Pengolahan Batubara di Indonesia (3)

Pembatasan produksi batubara, harus menjadi strategi yang benar-benar dipertimbangkan. Terutama untuk tercapainya upaya mewujudkan konservasi cadangan batubara nasional.

Saat ini, memang ada target pembatasan produksi batubara. Yaitu, pada angka 400 juta. Ini akan menjadi sebuah kesulitan tersendiri dalam implementasinya menyangkut jumlah dan siapa yang akan dikurangi tingkat produksinya.

Industri gasifikasi batubara memiliki angka pengganda output sebesar 2.1292. Artinya, setiap kenaikan permintaan sektor gasifikasi batubara sebesar 1 satuan, akan meningkatkan total ekonomi Indonesia sebesar 2.1292 satuan.

Berdasarkan hasil simulasi model input-output, jika terjadi pengurangan ekspor batubara sebesar 1%, tanpa adanya pengalihan untuk pemanfaatan lain di dalam negeri, maka output dan nilai tambah (PDB) Indonesia akan berkurang sebesar 0.02%.

Sementara jika terjadi pengurangan ekspor batubara sebesar 1% dan kemudian seluruhnya dialihkan untuk sektor gasifikasi batubara, maka output sektor gasifikasi batubara akan meningkat 0.03 persen. Total nilai tambah (PDB) Indonesia akan meningkat sebesar 0,02 persen.

Dalam skala global, China merupakan Negara yang memiliki dominasi terbesar terhadap batubara. China menggunakan setengah batubara global dan memproduksi hampir 50% dari total produksi batubara dunia.

Pada tahun 2015 produksi dan penggunaan batubara di China sempat mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir.

Penurunan tersebut selain disebabkan karena adanya perlambatan pertumbuhan penggunaan listrik di industri semen dan baja, kebijakan diversifikasi energi untuk mendorong pertumbuhan pembangkit energi terbarukan, juga dipengaruhi karena adanya kebijakan pelarangan pembangunan pembangkit batubara baru di beberapa kawasan industri sejak 2013, serta pembatasan penggunaan batubara di 12 provinsi selama 2014 hingga 2017 (World Resorces Institute, 2016).

Pada tahun 2016, produksi batubara China masih menunjukan penurunan meskipun harga komoditas batubara sempat mengalami lonjakan pada pertengahan kedua 2016. Produksi batubara China 2016 bertahan pada angka 3.36 milyar ton, atau lebih rendah 9.4 persen dari produksi batubara China pada 2015.

Penurunan ini juga diikuti di sisi penggunaan, dimana pada tahun 2016 konsumsi batubara China turun 4.7% meskipun jika dilihat secara total penggunaan energi, China mengalami kenaikan konsumsi energi hingga 1.4% pada tahun 2016.

Adanya upaya China untuk mengejar target pencapaian emisi dan menangani permasalahan polusi udara menyebabkan Pemerintah China mulai melakukan perubahan arah kebijakan penggunaan batubara dengan mengurangi pembangkit batubara baik yang saat ini sedang beroperasi maupun yang terdapat di dalam rencana pembangunan mendatang.

Pada akhir tahun 2016, Pemerintah China menunda pembangunan 30 unit PLTU Batubara dengan kapasitas 17 GW dan membatalkan 104 unit lebih rencana pembangunan PLTU Batubara dengan kapasitas 120 GW (cleantechnica, 2017).

Penurunan produksi batubara juga terjadi di Amerika Serikat, yang termasuk sebagai Negara pengguna batubara terbesar kedua setelah China. Produksi batubara USA pada tahun 2016 17% lebih rendah dari tingkat produksi batubara pada tahun 2015 dan merupakan yang terendah sejak 1978.

Penurunan biaya gas alam, biaya investasi energi terbarukan, adanya kebijakan untuk melindungi kesehatan masyarakat, kebutuhan tenaga listrik yang lebih rendah di musim dingin karena temperature yang lebih hangat, serta rendahnya permintaan batubara internasional, khususnya China yang selama ini dijadikan tujuan utama ekspor batubara Amerika Serikat merupakan faktor-faktor yang berkontirbusi terhadap penurunan produksi batubara Amerika Serikat (EIA, 2017).

Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi pada sektor batubara di Indonesia. Kinerja sektor batubara Indonesia menjelang akhir tahun 2016 menunjukan perkembangan positif, meskipun pada semester pertama 2016 sempat menunjukan kinerja yang kurang menggembirakan.

(bersambung)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Mengenal Pemodelan Prakiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi dengan Skenario Optimasi Pengolahan Batubara di Indonesia (2)

Kondisi sektor energi Indonesia secara keseluruhan menunjukan perkembangan yang positif sejak tahun 2016. Situasi ini diawali dengan penurunan harga minyak global hingga kisaran US$30 per barel yang berpengaruh terhadap penurunan harga BBM di dalam negeri oleh Pemerintah pada bulan Januari dan April.

Kebijakan ini kemudian diikuti dengan kebijakan penurunan harga untuk gas yang digunakan khususnya pada industri petrokimia, industri pupuk, dan industri baja.

Kebijakan penurunan harga energi yang dilakukan Pemerintah memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Meskipun di satu sisi penurunan harga minyak mengakibatkan berkurangnya penerimaan Negara dari sektor migas.

Namun di sisi lain, Indonesia dapat menghemat devisa sekitar Rp2.6 milyar setiap penurunan harga minyak sebesar US$1 per barel (Bank Indonesia, 2016).

Sementara, penurunan harga gas memberikan efek positif terhadap peningkatan kinerja sektor industri, peningkatan daya saing, peningkatan nilai tambah ekonomi dan penambahan penerimaan Negara dari pajak industri turunan.

Hasil kajian yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian, dengan adannya penurunan harga gas hingga 47% dapat memberikan tambahan penerimaan Negara dari pajak industri turunan hingga lebih dari Rp20 triliun.

Kehandalan infrastruktur juga menjadi bagian yang sangat diperhatikan oleh Pemerintah pada tahun 2016. Selama 2016, Pemerintah telah berhasil menambah kapasitas pembangkit lebih dari 4,000 MW dari sebelumnya 55,528 MW pada tahun 2015 menjadi 59,656 MW.

Pemerintah juga telah membangun, 2,116 km jaringan transmisi dan distribusi, dan meningkatkan rasio eletrifikasi hingga lebih dari 91% dari sebelumnya 87.35% pada tahun 2015. Meskipun demikian, perkembangan infrastruktur pembangkit listrik EBT relatif tidak terlalu pesat selama 2016.

Pembangkit-pembangkit EBT yang beroperasi dan masuk ke dalam grid lebih banyak pembangkit skala kecil dan berasal dari proyek yang dibangun oleh Kementerian ESDM sebagai bagian dari program listrik desa.

Selain infrastruktur ketenagalistrikan, pembangunan dan pengembangan infrastruktur migas juga menjadi perhatian pemerintah guna mendorong aksesibilitas masyarakat kepada sumber-sumber energi modern.

Pengembangan kapasitas kilang serta pembangunan jaringan gas kota merupakan indikator yang menjadi sasaran capaian kinerja pemerintah.

Sayangnya, pengembangan kapasitas kilang sangat sulit dilakukan karena jumlah investasi yang sangat besar dan pengembalian yang terlalu kecil sehingga sejak tahun 1994 setelah Refinery Unit VI Balongan beroperasi tidak ada lagi penambahan fasilitas kilang baru yang signifikan.

Salah satu infrastruktur pengolahan migas yang berhasil dibangun Pemerintah adalah kilang LNG Sengkang dengan nilai investasi sebesar USD 558 juta, kapasitas 2 MPTA meskipun hingga akhir tahun 2016 masih ada kendala dalam pembebasan lahan untuk

pembangunan pipa hulu sepanjang 19 km.

Terkait dengan pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga, selama tahun 2016 pemerintah telah berhasil menambah sambungan gas rumah tangga hingga 88,915 sambungan rumah yang terbagi di beberapa kota; Balikpapan (3,849 SR), Tarakan (21,000 SR), Surabaya (24,000 SR), Prabumulih (32,000 SR), Cilegon (4,066 SR) dan Batam (4,000 SR).

Kondisi bauran energi primer Indonesia diperkirakan masih akan didominasi oleh bahan bakar fosil hingga 15 tahun kedepan. Minyak masih menjadi energi utama dalam total penyediaan energi primer nasional.

Porsi minyak dalam bauran energi primer mencapai 39% dari total penyediaan energi primer 2977 MBOE pada tahun 2030, turun dari sebelumnya 42% pada tahun 2016.

Tingginya kebutuhan terhadap minyak tidak terlepas dari adanya peningkatan kapasitas

kilang minyak mengakibatkan peningkatan kebutuhan crude untuk intake kilang, serta menunjukan bahwa program-program diversifikasi yang saat ini direncanakan masih belum dapat secara signifikan menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap energi minyak di masa mendatang.

Di sisi lain, bauran energi terbarukan sendiri diperkirakan mengalami pertumbuhan yang tinggi namun masih belum dapat memenuhi target yang diamanatkan di dalam kebijakan energi nasional.

Dibandingkan dengan bauran EBT pada tahun 2016, bauran EBT dalam total penyediaan energi primer secara persentase meningkat dari 6% pada 2016 menjadi 15% pada tahun 2030.(bersambung)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Mengenal Pemodelan Prakiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi dengan Skenario Optimasi Pengolahan Batubara di Indonesia (1)

Pemerintah, secara bertahap harus mulai mengurangi ekspor energi fosil dan menjadikan sumber daya energi sebagai modal pembangunan. Caranya, dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi bagi pembangunan ekonomi nasional, penciptaan nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja.

Hal ini, sebagaimana amanat Undang-Undang Energi yang terdapat di dalam arah kebijakan energi nasional.

Dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan energi yang semakin meningkat, pemanfaatan batubara tidak hanya dijual sebagai komoditas ekspor atau dibakar secara langsung. Tetapi, bisa diolah menjadi energi alternatif pengganti minyak dan gas yang saat ini produksinya cenderung sudah mulai menurun.

Analisa penyediaan dan kebutuhan energi dalam kegiatan ini, dibangun berdasarkan sistem dinamik. Sistem dinamik adalah salah satu metodologi dan teknik pemodelan yang kuat untuk memahami dan menjelaskan struktur umpan balik (feedback structure), delay, serta hubungan nonlinear antar variabel dalam sebuah sistem
kompleks.

Pendekatan sistem dinamik digunakan untuk mengintegrasikan sistem pasokan dan kebutuhan energi untuk menyediakan proyeksi mendatang dalam beberapa scenario dengan mempertimbangkan feedback antara pasokan, kebutuhan, dan harga
dalam rangka penyusunan rekomendasi kebijakan energi.

Kondisi sektor energi Indonesia sendiri, secara keseluruhan menunjukan perkembangan yang positif. Terutama selama tahun 2016.

Ini diawali dengan penurunan harga minyak global hingga kisaran US$30 per barel yang berpengaruh terhadap penurunan harga BBM di dalam negeri oleh Pemerintah pada bulan Januari dan April.

Kehandalan infrastruktur juga menjadi bagian yang sangat diperhatikan oleh Pemerintah, baik di sektor ketenagalistrikan maupun di sektor migas.

Kondisi bauran energi primer Indonesia diperkirakan masih akan didominasi oleh bahan bakar fosil hingga 15 tahun ke depan. Minyak masih menjadi energi utama dalam total penyediaan energi primer nasional.

Porsi minyak dalam bauran energi primer mencapai 39% dari total penyediaan energi primer 2977 MBOE pada tahun 2030, turun dari sebelumnya 42% pada tahun 2016.

Kinerja sektor batubara Indonesia menjelang akhir tahun 2016 menunjukan perkembangan positif, meskipun pada semester pertama 2016 sempat menunjukan kinerja yang kurang menggembirakan.

Hingga akhir tahun 2016 realisasi produksi batubara Indonesia yang berasal dari pemegang PKP2B, IUP BUMN, dan IUP yang dikeluarkan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi mencapai 434 juta ton, melebihi jumlah produksi batubara yang ditargetkan sebesar 419 juta ton.

Ekspor batubara Indonesia pada tahun 2016 mencapai hampir 370 juta ton yang terdiri dari cooking coal 83.08 juta ton, thermal coal 228 juta ton, dan lignite sebesar 58.25 juta ton.

Penjualan batubara yang tercatat untuk kepentingan dalam negeri (DMO) mencapai 90.5 juta ton batubara, secara keseluruhan tumbuh sebesar 5% secara year on year.

Peluang pasar batubara dalam negeri masih cenderung terus naik hingga sepuluh tahun ke depan bersamaan dengan massifnya pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara.

Diperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang, kebutuhan batubara domestik per tahun akan mencapai 167 juta ton dari total kebutuhan batubara saat ini sekitar 90 juta ton per tahun dengan tingkat rata-rata pertumbuhan 1.04% per tahun.

(bersambung)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Awal Bulan Ini, Harga Batubara Melonjak Ungguli Emas, CPO dan Minyak Mentah

Harga komoditas batubara bergerak positif sepekan terakhir, awal Juli 2019 dan mengungguli tiga komoditas utama lain yaitu emas, minyak sawit mentah (CPO), serta minyak mentah.

Komoditas batubara naik hingga mencapai 13,14%. Sementara harga CPO hanya naik 0,46% sepanjang pekan, emas terkoreksi 0,68%, dan minyak mentah WTI jatuh 1,26%.

Harga komoditas batubara mengalami kenaikan selama sepekan ini karena terangkat oleh prospek pertumbuhan ekonomi global, yang akan tertolong tingginya ekspektasi penurunan suku bunga acuan.

Salah satunya adalah suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), yang diprediksi turun 25 basis poin (bps) pada akhir Juli nanti. Dengan prospek ekonomi dunia yang akan tertolong dengan penurunan suku bunga tersebut, diharapkan konsumsi batu bara dan energi juga akan naik.

Sepekan lalu, data Refinitiv menunjukkan harga batu bara melonjak menjadi US$ 77,9 per ton dari sebelumnya US$ 68,85 per ton.

Kenaikan juga didukung lebih fokusnya produsen batu bara untuk mencari pengganti konsumen dari China yang masih mengerem masuknya batubara. Saat ini, calon pengganti konsumen utama batubara adalah Asia Selatan dan Asia Tenggara, khususnya India dan pasar domestik Indonesia.

Menjelang akhir pekan, terdapat sentimen tambahan yaitu data PMI Manufaktur dari Jerman, China, Jepang, AS yang baru dipublikasikan.

Rilis data tersebut menunjukkan bahwa PMI Manufaktur ketiga negara tersebut beserta beberapa negara lain di bawah catatan bulan sebelumnya, berada di bawah ekspektasi pelaku pasar. Ini menandakan adanya kontraksi dibanding bulan sebelumnya.

Data PMI Manufaktur yang kurang menggembirakan tersebut sempat mendorong ekspektasi positif terhadap potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, yang akhirnya berdampak pada penurunan suku bunga masing-masing negara.

Pada hari Kamis pekan lalu, harga batubara meroket 5,35% menjadi US$ 77,85 per ton dari sebelumnya US$ 73,9 per ton.

Meskipun sedang positif-positifnya, kekhawatiran yang masih perlu dicermati adalah jika perlambatan ekonomi yang terjadi akibat masifnya penurunan suku bunga. Ini bisa mengganggu laju ekonomi dan akhirnya tidak ada serapan komoditas yang membaik dari negara-negara importir.

Karena itulah, prediksi komoditas batubara jangka menengah dan jangka panjang masih tetap negatif dan belum ada katalis kunci yang bisa mengubah arah tren harga globalnya.

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Ketika Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto Masuk Nominasi Warisan Dunia 2019 (2)

Tahun 1858, pemerintah Belanda kemudian menemukan cadangan batubara di sawahlunto mencapai 200 juta ton. Cadangan mentah itu bisa digunakan untuk mendukung beragam aktivitas, seperti industri, kereta api dan sistem jalur kereta, hingga pengapalan.

Eksploitasi batubara dan bahan tambang lainnya itu membuat Sawahlunto terpapar ke dunia luar. Pasalnya, pemerintah pendudukan membangun sejumlah jalur kereta untuk mengangkut bahan tambang yang dihasilkan dari Sawahlunto ke pantai barat Sumatera.

Industri semakin berkembang ketika pada 1883, pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Emmahaven atau yang kini dikelar sebagai Teluk Bayur dan menjadi pelabuhan pengapalan batubara untuk ekspor, dilanjutkan dengan konstruksi jalur kereta api dari Pulau Air Padang ke Muaro Kalaban hingga sampai ke Sawahlunto pada 1887-1892.

Hal itu mengubah Sawahlunto dari kawasan pedesaan menjadi lahan industri. Pemerintah kolonial mempekerjakan ahli pertambangan dari daerah jajahan untuk mengelola tambang. Sementara itu, tenaga kerja didapat dari para tahanan, Orang Rantai, dan buruh rendahan dari berbagai daerah, termasuk orang-orang Cina yang didapat dari pasar tenaga kerja Singapura.

Selama dua abad, tambang itu beroperasi dengan beragam lapisan orang, budaya, tradisi yang terlibat. Beberapa di antaranya bahkan masih eksis hingga sekarang.

Mendekati 2000, Bukit Asam sebagai perusahaan yang mengelola tambang itu memutuskan menutup lokasi tersebut. Kini, pemerintah kota setempat berjuang menjadikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya.

Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berada di sebuah lembah yang dikelilingi Bukit Barisan. Kota ini dikelilingi 3 kabupaten, yaitu Tanah Datar, Solok dan Sijunjung. Memiliki luas 273,45 km persegi.

Sebelum menjadi kota, dasar lembah ini merupakan persawahan, ladang dan kebun. Lembah ini dialiri oleh Sungai Lunto dan Sungai Sumpahan. Dari sinilah asal mula nama Sawahlunto, yaitu sawah yang dialiri sungai Lunto.

Nama lain kota ini adalah Sawah Aru. Aru adalah sejenis bambu kecil yang ditanam untuk memagari sawah dan ladang penduduk. Bangsa Belanda menyebutnya dengan Lunto-Kloof.

Tahun 1905, Pembangkit Listrik pertama kali beroperasi di negeri ini, ada di Sawahlunto. Kota ini menjadi kota modern pertama yang terang benderang dengan tenaga listrik, 40 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Penemuan ini dimulai tahun 1868, ketika Geolog Belanda, Willem Hendrik de Greve menemukan batubara di daerah Ombilin (Tanah Datar). Menurut penelitian de Greve, ada 200 juta ton batubara yang ada di sekitar aliran Sungai Ombilin.

Pada saat yang sama, di Eropa terjadi revolusi industri dengan ditemukan mesin uap sebagai penggerak. Mesin ini sangat membutuhkan bahan bakar batubara kualitas tinggi. Inilah yang membuat Belanda mengubah Sawahlunto yang agraris menjadi kawasan pertambangan batubara.

Sawahlunto dijadikan sebagai kota pada tanggal 1 Desember tahun 1888. Hingga tahun 1920, Sawahlunto telah menjadi kota industri tambang batubara modern. Belanda membangun sarana dan prasarana di sekitar areal pertambangan.

Ada pengolahan batubara, kantor, pemukiman dan perumahan pejabat pertambangan, karyawan dan buruh tambang, hingga pembangkit listrik dan pengadaan air bersih. Termasuk juga membangun kantor polisi dan penjara serta pemakaman untuk pejabat dan buruh tambang.

Jalan raya dan jalur kereta api dibangun (1887-1894) dari Padang ke Sawahlunto untuk pendistribusian hasil tambang melalui pelabuhan Emmahaven, sekarang pelabuhan Teluk Bayur.

Ada empat warisan Belanda yang sangat berpengaruh pada perkembangan ekonomi Sumatera Barat. Keempat warisan itu adalah, PT Semen Padang, Pelabuhan Teluk Bayur, Tambang batubara di Ombilin, dan jaringan jalan kereta api.

Keempatnya, menjadi pilar transformasi sosiologis dan kultural yang dialami masyarakat sekitar satu abad silam.

PT Semen Padang sendiri, berawal dari penemuan batu-batu menarik oleh seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman, Carl Christophus Lau, pada tahun 1906.

Carl Christophus Lau mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk pendirian pabrik semen di Indarung. Permohonannya disetujui lebih kurang tujuh bulan kemudian.

Christophus Lau menggandeng sejumlah perusahaan untuk bermitra, yakni Firma Gebroeders Veth, Fa.Dunlop, dan Fa.Varman & Soon, pada 18 Maret 1910. Selanjutnya, dia mendirikan pabrik bernama NV Nederlmidschhidische Portland Cement Maatschappij (NY NIPCM) dengan akta notaris Johannes Pieder Smidth di Amsterdam.

Perusahaan ini menjadi tonggak sejarah berdirinya industri semen di Indonesia, karena merupakan industri besar pertama di Indonesia yang terdaftar di bawah Departemen Pertanian, Industri, dan Perdagangan di Hindia Belanda. Pabrik semen di Indarung ini menjadi tonggak sejarah industri besar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Legalitas perusahaan semen itu berdasarkan “Koninklijke Bewilliging”, pada 8 April 1910, No 20. Pabrik ini berkantor pusat di Prins Hendrikade 123, Amsterdam dan kantor cabangnya di Padang.

Klin pertama pabrik semen Indarung selesai dibangun pada 1911 dengan kapasitas produksi 76,5 ton sehari. Klin kedua dibangun setahun kemudian, dengan kapasitas yang sama.

Pada awalnya, sumber energi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan pabrik ini berasal dari pembangkit listrik Rasak Bungo, yang memanfaatkan air Sungai Lubuk Paraku.

Bahan bakar pabrik menggunakan batubara Ombilin. Batubara didatangkan dengan kereta api dari Sawahlunto ke Bukit Putus, tak jauh dai Teluk Bayur. Inilah untuk pertama kali, batubara mulai menjadi bahan penting bagi industri pabrik.

Dalam perjalanannya, pabrik ini terus mengalami perkembangan. Tahun 1939, menjelang perang dunia II, pabrik ini mampu produksi 170.000 ton setahun. Ini produksi tertinggi di kala itu. Waktu itu, pabrik ini memiliki kapasitas terpasang 210.000 ton.

Saat Jepang memenangkan perang dunia kedua, Jepang mengambilalih penguasaan pabrik dari tangan Belanda. Pada masa itu, manajemen perusahaan kemudian ditangani Asano Cement Jepang. Semua produksi pabrik ini digunakan untuk mendukung aktivitas militer Jepang.

Penguasaan Jepang terhadap pabrik ini hanya bertahan lebih kurang dua dua tahun (1942-1944). Pada Agustus 1944, pabrik semen ini dibom tentara sekutu, dan mengalami kerusakan parah. Setelah zaman kemerdekaan, pabrik Semen Padang mengalami kondisi gonjang-ganjing.

Pada waktu kemerdekaan tahun 1945, pabrik ini diambilalih karyawan dan selanjutnya diserahkan kepada pemerintah tahun 1947.

Pada agresi Belanda 1947-1949, pabrik ini relatif tidak berfungsi. Belanda kemudian kembali menguasai alih pabrik dan pengelolaannya diserahkan pada perusahaan yang sebelumnya menangani pabrik ini.

Meski Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan, namun pabrik Semen Padang yang berganti nama menjadi NV Padang Portland Cement Maatshappi (PPCM), tetap berada di bawah pengelolaan Belanda.

Tahun 1958, pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi seluruh perusahaan Belanda di Indonesia. Perusahaan ini kemudian sepenuhnya menjadi milik Indonesia sesuai amanat Undang Undang No 86 tahun 1958 tentang Nasionalisasi.

Sedangkan Tambang Batubara Sawahlunto, diambilalih dan dikelola oleh pemerintah Indonesia di bawah nama Perusahaan Negara Tambang Batubara Ombilin (PN. TBO). Beberapa tahun kemudian, perusahaan ini dilikuidasi oleh Perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam, sejalan dengan menipisnya persediaan batubara di sana.

Kejayaan industri batubara tertua dan terbesar di Asia Tenggara, mulai berakhir. Kota Sawahlunto menjadi sejarah dan cagar budaya. Sawahlunto, menjadi kota bersejarah (Heritage City) dan diusulkan menjadi warisan dunia.

(dari berbagai sumber)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Ketika Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto Masuk Nominasi Warisan Dunia 2019 (1)

Pertemuan World Heritage Committee (WHC) Unesco ke-43 di Baku, Azerbaijan, memunculkan satu nama peninggalan bersejarah di Indonesia: Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Pertemuan yang digelar sepanjang 30 Juni hingga 10 Juli 2019 itu, akhirnya menominasikan Tambang Batubara Ombilin, yang dimasukkan pemerintah Indonesia sebagai Warisan Dunia, sebagai nominasi.

Penentuan pemenang nominasi warisan dunia masih akan dibahas pada pertemuan World Heritage Commitee (WHC) UNESCO berikutnya. Dilansir dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, setidaknya ada tiga nilai menakjubkan dari penominasian Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto sebagai Warisan Dunia.

Pertama, Dirjen Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri, Febrian Ruddyard menyebutkan, Tambang Ombilin menunjukkan perkembangan teknologi perintis abad ke-19 yang menggabungkan antara ilmu teknik pertambangan bangsa Eropa dengan kearifan lingkungan lokal, praktik tradisional, dan nilai-nilai budaya dalam kegiatan penambangan batubara yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat.

Kedua, hubungan industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia. Perpaduan antara pendekatan unik metode fusion dan hubungan sistemik ini bahkan diadopsi oleh tambang batu bara di Afrika Selatan pada pendudukan Belanda di sana.

Ketiga, nominasi Ombilin menggambarkan dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia Timur dan Barat, yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi, yang terdiri dari masyarakat multi-etnis dan multi-agama.

Dilansir dari laman whc.unesco.org, Sawahlunto merupakan kota tambang batubara tertua di Asia Tenggara. Kawasan itu dikelilingi sejumlah bukit, seperti Bukit Pola, Bukit Pari, dan Bukit Mato.

Pemerintah kolonial Belanda, adalah pihak yang pertama kali menemukan dan mengeksploitasi cadangan batubara di tempat itu pada akhir abad 19. Sejak itu, kawasan pedesaan berkembang dan menjadi situs pertambangan.

Pemerintah Belanda sebenarnya pertama kali mengekskavasi cadangan batubara di Pengaron, Kalimantan, pada abad 18, dengan menerapkan teknologi mesin uap. Namun, kualitas batubara yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi.

(bersambung)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook

Revisi ke-enam PP No 23/2010 dan Nasib Industri Batubara Indonesia (2)

Revisi Peraturan Pemerintah nomor 23/2010, masih menimbulkan kontroversial. Terutama, adanya penilaian bahwa revisi ini lebih ditujukan untuk kepentingan para kontraktor dalam mempertahankan dominasi pengelolaan tambang-tambang di Indonesia.

Saat ini, sejumlah tambang besar batubara oleh pengusaha PKP2B generasi pertama, akan berakhir kontraknya dalam waktu dekat.

Dari perspektif pelaku usaha, revisi PP nomor 23/2010 ini menjadi penting karena memberi kepastian hukum investasi dari wilayah tambang yang 30 tahun lalu ditandatangani. Tentunya, para pelaku usaha ingin 30 tahun lagi dijamin investasinya.

Dari kajian hukum, beberapa ketentuan Revisi PP Pertambangan ditemukan adanya pertentangan dengan Undang-Undangan Nomor 4/2009 tentang Minerba). Diantaranya adalah:

A. Ketentuan pada UU Minerba:

1. Perpanjangan paling cepat 2 tahun dan paling lambat 6 bulan sebelum kontrak habis.

2. Diperpanjang menjadi IUPK dengan luasan maksimal 15.000 Ha.

3. Barang Milik Negara (BMN) yang sebagian besar sebagai infrastrukturtambang, semestinya dapat disewakan atau dibeli oleh kontraktor setelah kontrak habis.

B. Revisi PP 23/2010 (Pertambangan):

1. Pemerintah mempercepat perpanjangan PKP2B menjadi IUPK dapat diajukan paling cepat 5 tahun dan paling lambat 1 tahun sebelum PKP2B berakhir.

2. Luas Wilayah IUPK perpanjangan sesuai dengan rencana kegiatan pada seluruh wilayah perjanjian yang telah disetujui Menteri ESDM sesuai ketentuan Pasal 171 UU No.4/2009 (Luas wilayah pertambangan dapat melebihi 15.000 ha)

3. Seluruh barang yang diperoleh selama masa pelaksanaan PKP2B yang ditetapkan menjadi Barang Milik Negara (BMN) tetap dapat digunakan sepanjang dibutuhkan dalam kegiatan pengusahaan pertambangan batubara pada masa pelaksanaan IUPK perpanjangan dengan kompensasi pengenaan PNBP dalam rangka meningkatkan penerimaan negara.

(dari berbagai sumber)

#coal #minelogservicesindonesia #pertambangan #miningcoal #batubara #msi #eksplorasitambang #hargabatubara #infopertambangan #beritapertambangan #konsultantambang #konsultantambangbatubara #konsultaneksplorasi #geolistrik #logging #Literaturestudy #FieldSurvey #ExplorationPlanning #MineDesign #drillingservice #geophysicallogging
... See MoreSee Less

View on Facebook