• svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed

Kejayaan Batubara Indonesia dan Naiknya Cadangan Nasional

By adminmsi In Uncategorized

07

Jan
2019

Kabar baik di tahun 2018 untuk industri batubara di Indonesia adalah: adanya peningkatan total sumber daya dan cadangan batubara nasional, yang semula 125 miliar ton sumberdaya dan 25 miliar ton cadangan di tahun 2017, menjadi sekitar 166 miliar ton sumberdaya dan 37 miliar ton cadangan di 2018.

Angka ini, merupakan hasil rekonsiliasi data minerba yang melibatkan 19 provinsi di Indonesia, yang memiliki jumlah IUP signifikan. Rekonsiliasi data neraca minerba ini, merupakan hasil dari kerja bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi  dengan Direktorat Jenderal Minerba dan Tim Koordinasi dan Supervisi (Korsup) sektor minerba KPK.

Kepala Bidang Batubara PSDMBP, Rita Susilawati melalui keterangan resminya pada pertengahan tahun 2018 menyatakan bahwa rekonsiliasi minerba tersebut, salah satunya menghasilkan peningkatan total sumber daya dan cadangan batubara nasional. 

Subsektor mineral dan batubara (minerba) juga masih menjadi salah satu penyumbang penerimaan Negara yang  besar. Hingga bulan Juni 2018, sektor itu berhasil menghimpun pendapatan sebesar Rp 20,1 triliun untuk kas negara yang berasal dari royalti, penjualan hasil tambang, dan iuran tetap minerba. 

Potensi penerimaan negara dari subsektor minerba untuk tahun 2019 atau tahun-tahun berikutnya, diprediksi akan meningkat. Hal ini terlihat dari rekonsiliasi data minerba tahun 2018, yang dicatat oleh Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Kementerian ESDM.

Yaitu, adanya peningkatan total sumber daya dan cadangan batu bara nasional. Dimana, pada tahun 2017 tercatat sumber daya sebesar 125 miliar ton dan cadangannya 25 miliar ton. Tahun 2018, meningkat menjadi 166 miliar ton sumber daya dan 37 miliar ton cadangan. 

Kepala Bidang Batubara PSDMBP, Rita Susilawati memberikan gambaran, dengan asumsi angka produksi batubara yang ditetapkan pemerintah sekitar 485 juta ton di tahun 2018, maka jumlah cadangan sebesar 37 miliar yang ada di Indonesia, akan membuat produksi batubara bertahan hingga sekitar 76 tahun ke depan. 

Kegiatan eksplorasi batubara sendiri, secara rinci dan mendalam dapat mengubah status sumber daya menjadi cadangan. Sehingga umur pemanfaatan batubara Indonesia juga bisa terus meningkat. 

Karena itu, upaya untuk meningkatkan cadangan juga terus digencarkan. Salah satunya dengan menjaring lebih banyak data sumber daya dan cadangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B). Upaya ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat terhadap jumlah kekayaan sumber daya mineral dan batu bara yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan rekonsiliasi data hingga tahun 2018, telah berhasil mengumpulkan data dari 1.108 perusahaan atau sekitar 54% total jumlah IUP/PKP2B batubara di Indonesia. Angka ini sangat signifikan, karena kompleksitas data IUP di daerah. 

Keberhasilan terbesar dicatatkan oleh Dinas ESDM Provinsi Bengkulu yang telah berhasil mengumpulkan data dari seluruh pemegang IUP batubara yang ada di provinsi tersebut. Sementara, Provinsi Kaltim masih menjadi tantangan terbesar dalam pengumpulan data dari IUP dimana baru sekitar 50% data yang terkumpul.

 Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia. Tahun 2005, ekspor batubara Indonesia bahkan melampaui produksi Australia. Indonesia menjadi eksportir terdepan batubara thermal. 

Batubara thermal yang diekspor terdiri dari jenis kualitas menengah (antara 5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram), yang sebagian besar permintaannya berasal dari Cina dan India. 

Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia menempati peringkat ke-9 dengan sekitar 2,2 persen dari total cadangan batubara global berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan batubara total Indonesia, terdiri dari batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6100 cal/gram.

Ada banyak kantung cadangan batubara yang kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan cadangan batubara terbesar di Indonesia adalah:

1. Sumatra Selatan

2. Kalimantan Selatan

3. Kalimantan Timur

Sektor pertambangan batubara di Indonesia mengalami peningkatan produksi, ketika tahun 1990-an dibuka investasi untuk asing. Ekspor mengalami peningkatan. Namun penjualan domestik  tidak signifikan, karena konsumsi batubara dalam negeri relatif sedikit di Indonesia. 

Booming komoditas batubara terjadi pada era 2000-an. Sektor ini menghasilkan keuntungan yang signifikan untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ekspor batubara. Kenaikan harga komoditas ini, sebagian besar dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. 

Kendati begitu, situasi yang menguntungkan ini berubah pada saat terjadi krisis keuangan global pada tahun 2008, ketika harga-harga komoditas menurun begitu cepat. Indonesia terkena pengaruh faktor-faktor eksternal ini karena ekspor komoditas (terutama untuk batubara dan minyak sawit)  berkontribusi untuk sekitar 50% dari total ekspor Indonesia, sehingga membatasi pertumbuhan PDB tahun 2009 sampai 4,6%.

Pada semester 2 tahun 2009 sampai awal tahun 2011, harga batubara global mengalami rebound tajam. Namun demikian, penurunan aktivitas ekonomi global telah menurunkan permintaan batubara, sehingga menyebabkan penurunan tajam harga batubara dari awal tahun 2011 sampai tengah 2016.

Pada paruh kedua 2016, harga batubara melonjak ke level seperti yang terjadi pada awal 2014. Sehingga, hal ini memberikan angin segar ke industri pertambangan. Kenaikan harga ini dipicu oleh pulihnya harga minyak mentah, meningkatnya permintaan batubara domestik di Indonesia seiring dengan kembalinya pembangkit listrik tenaga batu bara baru. 

Namun, yang lebih penting lagi adalah kebijakan penambangan batubara China. China, produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia, memutuskan untuk memangkas hari produksi batubara domestiknya. Alasan utama mengapa China ingin mendorong harga batubara ke level yang lebih tinggi pada paruh kedua tahun 2016, adalah tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing loans, atau NPLs) di sektor perbankan China. 

Rasio NPLnya meningkat menjadi 2,3 persen pada tahun 2015. Alasan utama yang menjelaskan kenaikan rasio NPL ini adalah perusahaan pertambangan batubara China yang mengalami kesulitan untuk membayar hutangnya kepada bank.

Namun, mengingat aktivitas ekonomi global masih agak suram, arah harga batubara dalam jangka pendek hingga menengah sangat bergantung pada kebijakan batubara China.

Walaupun kesadaran global telah dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, perkembangan sumber energi terbarukan tidak menunjukkan indikasi bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil (terutama batubara) akan menurun secara signifikan dalam waktu dekat. 

Karena itu, batubara masih akan menjadi sumber energi vital. Oleh karenanya, teknologi batubara bersih dalam pertambangan batubara akan sangat diperlukan di masa mendatang. Dan, Indonesia diharapkan akan terlibat secara aktif di dalam proses tersebut, sebagai salah satu pelaku utama di sektor pertambangan batubara.

Teknologi batubara bersih ini difokuskan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batubara. Kegiatan-kegiatan hulu yang terkait dengan pertambangan batubara, seperti pengembangan waduk-waduk coalbed methane (CBM) yang potensinya banyak dimiliki oleh Indonesia, telah mulai mendapatkan perhatian berbagai pihak. Inilah harapan besar akan bangkitnya kembali kejayaan batubara di Indonesia.

(dihimpun dari berbagai sumber)

Leave a reply