• svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed

Mengenal Potensi dan Risiko Industri Batubara di Indonesia

By adminmsi In Uncategorized

21

Jan
2019

Cadangan batubara nasional Indonesia diprediksi masih bertahan hingga 76 tahun ke depan. Tahun 2018, data rekonsilisasi cadangan batubara menunjukkan angka sekitar 166 miliar ton untuk sumberdaya, dan 37 miliar ton untuk cadangan.

Ini menjadikan sektor industri di tambang batubara masih akan menjadi “primadona” untuk beberapa tahun ke depan. Di samping, batubara akan memberikan kontribusi besar pada pendapatan negara sebagai royalti.

Namun, dalam perkembangan industri minerba di Indonesia, bisnis pertambangan –khususnya untuk sektor batubara– menunjukkan adanya karakteristik yang berbeda.

Dalam berbagai kajian dan analisa, karakteristik bisnis batubara di Indonesia, selain memiliki potensi dan masa depan yang cerah, juga memiliki risiko yang harus diantisipasi.

Dari berbagai studi literal, dalam industri batubara secara spesifik diperlukan suatu mekanisme penanggulangan risiko operasional yang baik dan sistematis. Selain agar setiap perusahaan bisa melindungi dan mencapai kepentingannya, juga untuk membangun sebuah sistem pengawasan dan pengelolaan, sehingga akan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mencapai visi, misi dan tujuan strategisnya.

Risk Management Assessment

Secara umum, ada beberapa analisa risiko pertambangan yang sesuai dengan karakteristik industri pertambangan di Indonesia.

Yang paling awal adalah political risk. Risiko tambang di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi politik yang diatur dan ditentukan dalam perundangan dan kebijakan, seperti UUD 1945, visi pembangunan nasional, nawacita, kedaulatan energi, pergantian pemerintahan, hingga pergantian kementerian dan kebijakan-kebijakan lainnya.
Selain itu, sebagai negara yang ekonominya berbasis komoditas, Indonesia sangat terpengaruh oleh perlambatan ekonomi di Cina.

Karena itu, risiko kedua yang harus diantisipasi adalah changing regulation atau berubahnya kebijakan.

Secara umum, pertambangan di Indonesia telah diatur pada Undang-Undang No. 4 tahun 2009 yang mengatur tentang peningkatan nilai tambah batubara dan mineral. Pelaksanaannya diatur oleh Peraturan Menteri No. 7 tahun 2012 dan mulai efektif setelah diberlakukan Permen ini.

Implikasi Permen ini adalah: (i) kewajiban perusahan tambang untuk melakukan pengolahan bahan galian tambang di dalam negeri. (ii) pelarangan ekspor bijih mentah atau hasil tambang yang belum dilakukan pengolahan. Dengan adanya Permen ini, maka perusahaan tambang berkewajiban untuk melakukan pembangunan smelter atau pabrik pengolahan mineral.

Berapa regulasi yang berimplikasi pada bisnis tambang, adalah Domestic Market Obligation (DMO) dan perubahan Royalty (fee).
Pada awal tahun 2017, juga dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) 1/2017 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara serta peraturan turunannya termasuk untuk melakukan divestasi saham hingga 51% secara bertahap.

Risiko ketiga adalah bisnis pertambangan batubara sangat dipengaruhi oleh harga batubara. Mengingat batubara adalah sebuah komoditas, nilainya sangat dipengaruhi oleh harga global yang berfluktuasi karena dinamika volume penawaran dan permintaan.

Financial risk menjadi risiko keempat yang harus diantisipasi. Dari sisi keuangan atau financial risk, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Yaitu: risiko mata uang, tingkat suku bunga, risiko default counterparty, risiko likuiditas dan risiko yang terkait dengan pasar modal.

Risiko kelima adalah Operational Risk. Yaitu: pertambangan merupakan proyek pengoperasian dengan keahlian yang tinggi. Karenanya, pengelolaannya membutuhkan kemampuan untuk mengantisipasi risiko yang akan terjadi.

Beberapa risiko terkait operasional yang paling bisa diidentifikasi adalah: Mining Engineering, Health, Safety, Environment, Proses dan probem produksi, Kualitas Produk, Kontraktor, Rencana Operasi, Ketersediaan lahan, Manajemen Proyek, Kegagalan untuk menemukan sumber daya baru/mempertahankan dan mengembangkan operasi baru (ketidakpastian memperkirakan sumber daya baru), pola cuaca yang tidak normal dan tidak mengikuti musim, pasokan bahan bakar, pergerakan harga batubara, kemampuan untuk mendapatkan alat berat, hubungan masyarakat, terkena peningkatan litigasi, biaya kepatuhan, biaya rehabilitasi lingkungan yang tak terduga, bencana alam, klaim pihak ketiga dapat melebihi polis asuransi yang ada.

Risiko berikutnya adalah Capital Project. Bahwa, proyek pertambangan merupakan proyek dengan investasi modal yang besar. Ada banyak prosedur dan tahapan yang harus dilakukan baik sebelum produksi maupun saat produksi.

Karenanya, risiko awal sudah pada pendanaan, sudah terjadi pada saat sebelum melakukan produksi (pre-produksi).

Jadi, selain membutuhkan modal yang besar, proyek tambang pada umumnya juga proyek dengan jangka panjang. Membutuhkan waktu yang lama untuk pengembalian modal. Bilamana tidak dilakukan manajemen proyek yang baik, maka dapat terjadi kebangkrutan.

Dari berbagai analisa terkait dengan risiko industri pertambangan batubara, maka sebuah mining risk assessment sangat diperlukan.

Kelancaran operasional perusahaan di tengah beragam risiko yang mungkin timbul akibat faktor internal maupun eksternal, akan memerlukan mekanisme penanggulangan risiko operasional yang baik dan sistematis. Terutama, melalui penerapan manajemen risiko.

(naskah dihimpun dari berbagai sumber)

Leave a reply