• svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed
  • svg
  • svg
  • svg
  • svg
thumb

Head Office in Indonesia

Kawasan Industri & Gudang Taman Tekno BSD Blok G1 No. 10. Sektor XI Bumi Serpong Damai Sektor XI Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15314

Contact Us

Looking for a quality and best for your next project?

* Please Fill Required Fields *
img

Call Us

+62 815 7104 409 or +62 815 1684 783

Working Hours

We are happy to meet you during our working hours. Please make an appointment.

  • Monday 7.30 AM - 6 PM
  • Tuesday 7.30 AM - 6 PM
  • Wednesday 7.30 AM - 6 PM
  • Thursday 7.30 AM - 6 PM
  • Friday 7.30 AM - 6 PM
  • SaturdayClosed
  • SundayClosed

Sejarah Batubara Untuk Industri Listrik di Indonesia

By adminmsi In Uncategorized

18

Feb
2019

Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berada di sebuah lembah yang dikelilingi Bukit Barisan. Kota ini dikelilingi 3 kabupaten, yaitu Tanah Datar, Solok dan Sijunjung. Memiliki luas 273,45 km persegi.

Sebelum menjadi kota, dasar lembah ini merupakan persawahan, ladang dan kebun. Lembah ini dialiri oleh Sungai Lunto dan Sungai Sumpahan. Dari sinilah asal mula nama Sawahlunto, yaitu sawah yang dialiri sungai Lunto.

Nama lain kota ini adalah Sawah Aru. Aru adalah sejenis bambu kecil yang ditanam untuk memagari sawah dan ladang penduduk. Bangsa Belanda menyebutnya dengan Lunto-Kloof.

Tahun 1905, Pembangkit Listrik pertama kali beroperasi di negeri ini, ada di Sawahlunto. Kota ini menjadi kota modern pertama yang terang benderang dengan tenaga listrik, 40 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Penemuan ini dimulai tahun 1868, ketika Geolog Belanda, Willem Hendrik de Greve menemukan batubara di daerah Ombilin (Tanah Datar). Menurut penelitian de Greve, ada 200 juta ton batubara yang ada di sekitar aliran Sungai Ombilin.

Pada saat yang sama, di Eropa terjadi revolusi industri dengan ditemukan mesin uap sebagai penggerak. Mesin ini sangat membutuhkan bahan bakar batubara kualitas tinggi. Inilah yang membuat Belanda mengubah Sawahlunto yang agraris menjadi kawasan pertambangan batubara.

Sawahlunto dijadikan sebagai kota pada tanggal 1 Desember tahun 1888. Hingga tahun 1920, Sawahlunto telah menjadi kota industri tambang batubara modern. Belanda membangun sarana dan prasarana di sekitar areal pertambangan.

Ada pengolahan batubara, kantor, pemukiman dan perumahan pejabat pertambangan, karyawan dan buruh tambang, hingga pembangkit listrik dan pengadaan air bersih. Termasuk juga membangun kantor polisi dan penjara serta pemakaman untuk pejabat dan buruh tambang.

Jalan raya dan jalur kereta api dibangun (1887-1894) dari Padang ke Sawahlunto untuk pendistribusian hasil tambang melalui pelabuhan Emmahaven, sekarang pelabuhan Teluk Bayur.

Ada empat warisan Belanda yang sangat berpengaruh pada perkembangan ekonomi Sumatera Barat. Keempat warisan itu adalah, PT Semen Padang, Pelabuhan Teluk Bayur, Tambang batubara di Ombilin, dan jaringan jalan kereta api.

Keempatnya, menjadi pilar transformasi sosiologis dan kultural yang dialami masyarakat sekitar satu abad silam.

PT Semen Padang sendiri, berawal dari penemuan batu-batu menarik oleh seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman, Carl Christophus Lau, pada tahun 1906.

Carl Christophus Lau mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk pendirian pabrik semen di Indarung. Permohonannya disetujui lebih kurang tujuh bulan kemudian.

Christophus Lau menggandeng sejumlah perusahaan untuk bermitra, yakni Firma Gebroeders Veth, Fa.Dunlop, dan Fa.Varman & Soon, pada 18 Maret 1910. Selanjutnya, dia mendirikan pabrik bernama NV Nederlmidschhidische Portland Cement Maatschappij (NY NIPCM) dengan akta notaris Johannes Pieder Smidth di Amsterdam.

Perusahaan ini menjadi tonggak sejarah berdirinya industri semen di Indonesia, karena merupakan industri besar pertama di Indonesia yang terdaftar di bawah Departemen Pertanian, Industri, dan Perdagangan di Hindia Belanda. Pabrik semen di Indarung ini menjadi tonggak sejarah industri besar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Legalitas perusahaan semen itu berdasarkan “Koninklijke Bewilliging”, pada 8 April 1910, No 20. Pabrik ini berkantor pusat di Prins Hendrikade 123, Amsterdam dan kantor cabangnya di Padang.

Klin pertama pabrik semen Indarung selesai dibangun pada 1911 dengan kapasitas produksi 76,5 ton sehari. Klin kedua dibangun setahun kemudian, dengan kapasitas yang sama.

Pada awalnya, sumber energi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan pabrik ini berasal dari pembangkit listrik Rasak Bungo, yang memanfaatkan air Sungai Lubuk Paraku.

Bahan bakar pabrik menggunakan batubara Ombilin. Batubara didatangkan dengan kereta api dari Sawahlunto ke Bukit Putus, tak jauh dai Teluk Bayur. Inilah untuk pertama kali, batubara mulai menjadi bahan penting bagi industri pabrik.

Dalam perjalanannya, pabrik ini terus mengalami perkembangan. Tahun 1939, menjelang perang dunia II, pabrik ini mampu produksi 170.000 ton setahun. Ini produksi tertinggi di kala itu. Waktu itu, pabrik ini memiliki kapasitas terpasang 210.000 ton.

Saat Jepang memenangkan perang dunia kedua, Jepang mengambilalih penguasaan pabrik dari tangan Belanda. Pada masa itu, manajemen perusahaan kemudian ditangani Asano Cement Jepang. Semua produksi pabrik ini digunakan untuk mendukung aktivitas militer Jepang.

Penguasaan Jepang terhadap pabrik ini hanya bertahan lebih kurang dua dua tahun (1942-1944). Pada Agustus 1944, pabrik semen ini dibom tentara sekutu, dan mengalami kerusakan parah. Setelah zaman kemerdekaan, pabrik Semen Padang mengalami kondisi gonjang-ganjing.

Pada waktu kemerdekaan tahun 1945, pabrik ini diambilalih karyawan dan selanjutnya diserahkan kepada pemerintah tahun 1947.

Pada agresi Belanda 1947-1949, pabrik ini relatif tidak berfungsi. Belanda kemudian kembali menguasai alih pabrik dan pengelolaannya diserahkan pada perusahaan yang sebelumnya menangani pabrik ini.

Meski Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan, namun pabrik Semen Padang yang berganti nama menjadi NV Padang Portland Cement Maatshappi (PPCM), tetap berada di bawah pengelolaan Belanda.

Tahun 1958, pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi seluruh perusahaan Belanda di Indonesia. Perusahaan ini kemudian sepenuhnya menjadi milik Indonesia sesuai amanat Undang Undang No 86 tahun 1958 tentang Nasionalisasi.

Sedangkan Tambang Batubara Sawahlunto, diambilalih dan dikelola oleh pemerintah Indonesia di bawah nama Perusahaan Negara Tambang Batubara Ombilin (PN. TBO). Beberapa tahun kemudian, perusahaan ini dilikuidasi oleh Perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam, sejalan dengan menipisnya persediaan batubara di sana.

Kejayaan industri batubara tertua dan terbesar di Asia Tenggara, mulai berakhir. Kota Sawahlunto menjadi sejarah dan cagar budaya. Sawahlunto, menjadi kota bersejarah (Heritage City) warisan dunia.

(dari berbagai sumber)

Leave a reply